0

Antara Aku, Pasien, dan IGD

“DOK, APNEU!”

Teriakan perawat itu membuat saya bergegas berlari ke arahnya. Apneu adalah kondisi dimana pasien berhenti bernafas. Saya periksa denyut nadi tangan dan leher, tidak teraba. Saya periksa detak jantung dengan stetoskop, tidak terdengar. Dari hasil EKG (rekam jantung) hanya terlihat garis lurus tanda jantung tidak lagi berdetak.

Segera saya meminta perawat untuk melakukan RJP (pompa jantung), sembari memberikan penjelasan dan juga meminta persetujuan kepada keluarga pasien. Beberapa siklus RJP telah dilakukan, namun tidak ada tanda-tanda kembalinya detak jantung pasien tersebut. Pasien dinyatakan meninggal. Saya menarik nafas panjang. Memberitahu kematian kepada keluarga pasien selalu menjadi kondisi yang sulit untuk dilakukan…

Bekerja di IGD membutuhkan kecepatan dan ketepatan berfikir. Kami dituntut untuk menilai keadaan pasien, segera menemukan permasalahannya, lalu memberikan penanganan yang tepat. Seringkali jantung saya bedegup lebih kencang karena bekerja dikejar waktu. Sedikit saja kami lalai atau lambat memberikan keputusan, bisa saja nyawa pasien tidak terselamatkan…

Saat operan jaga beberapa minggu lalu, teman saya yang jaga sebelumnya berkata, “Siap-siap ya, akan ada korban kecelakaan massal. Ini baru datang 4 orang, 5 orang lagi masih diperjalanan”. Dan benar, ada 9 pasien kecelakaan. Ada yang curiga perdarahan otak, patah tulang berat, curiga perdarahan perut, dan lainnya. Darah bercecer dimana-mana. Teriakan kesakitan terdengar memilukan. Disaat seperti itulah kemampuan untuk “tetap tenang dan berfikir jernih apapun kondisinya” sangat diperlukan.

Ah. Beberapa kali saya harus menahan air mata di IGD, tidaklah elok dokter menangis dihadapan pasiennya. Melihat suami menangis histeris disamping istrinya yang tidak sadar. Melihat anak yang terus mengguncang tubuh ibunya yang sudah meninggal. Seorang ibu yang tiba-tiba memeluk saya erat dan memohon-mohon agar anaknya diselamatkan…

Hal yang menyenangkan saat jaga adalah ketika menangani pasien yang awalnya kondisinya jelek, alhamdulillah, kemudian menjadi baik kembali. Seorang bayi kekurangan cairan berat dengan kesadaran yang sudah menurun, keadaannya menjadi baik setelah diberikan cairan (tentunya dengan bantuan perawat IGD cekatan dan berpengalaman memasang infus walaupun pembuluh darahnya kolaps). Seorang pasien yang tidak sadar dan ternyata hipoglikemi, tak berapa lama sudah segar bugar setelah disuntikkan cairan glukosa. Seorang pasien kecelakaan dan mengeluarkan banyak darah, akhirnya bisa stabil kembali.

Capek? Tentu. Lelah? Iya. Jenuh? Kadang. Tapi insya Allah saya tak akan pernah menyesal untuk selalu menjalani profesi dokter ini :)

You are not studying to pass the exam…

You are studying for the day when you are the only thing between the patient and the grave.

#DokterInternshipIGD

4

Jodoh itu Allah yang Menentukan

“Qon, aku mau nikah ah. Cariin tanggal libur panjang dong”

“Lah, seriusan, Cims? Ih, gak bilang-bilang kalo udah ada calon”

“Calon mah belum ada, Qon.haha. Ya, nyari tanggal dulu aja, siapa tau dapet jodoh. Eh, ini ada nih tanggal merah, pas tahun baru”

“Wow, asiik. Enak juga tahun baruan di Malang. Terus itu kan kita belum internship juga”

“Iya yaa. Ini juga kebetulan hari Jumat, hari yang bagus buat nikah”

“Nah boleh tuh! Ciyee, tanggal udah dapet, tinggal nyari calon suami dong, Cims.hehe”

“Hehe, doain aja, ntar Allah yang nentuin jodohnya”

–00000–

Itu adalah cuplikan percakapan saya dan sahabat saya di living room sebuah asrama, daerah Menteng, Jakarta Pusat. Siapa yang mengira, bahwa percakapan random itu ternyata di-ijabah-i oleh Allah. Benar-benar menjadi kenyataan, hanya dalam waktu 3 bulan setelahnya. Dalam beberapa minggu lagi, sahabat saya tersebut akan melangsungkan pernikahannya. Melewati sebuah proses yang ternyata begitu dimudahkan.

Saya dan Cimuth tinggal seatap selama 8 tahun; 3 tahun saat di Aliyah dan 5 tahun di Asrama FKUI. And I’m trully blessed to have her as my close friend. Istri idaman banget lah. Otaknya? Pinter banget pokoknya. Gaulnya? Dia sudah backpacker keliling Eropa, Asia Tenggara, dan Jepang. Parasnya? Khas mbakyu Malang. Ibadahnya? Wah, jangankan ibadah fardhu, ibadah-ibadah sunnah aja selalu dia lakukan.

Dimudahkan berbeda dengan diburu-buru.

Saya masih ingat, saat Cimuth kami paksa melakukan konferensi pers tentang proses perkenalan dengan si Mas. Cerita mereka unik, ternyata ada beberapa kebetulan dan prosesnya sangat dimudahkan. Walaupun Cimuth sudah menentukan tanggal bahkan sebelum bertemu dengan si Mas, tapi bukan berarti pernikahan mereka diburu-buru deadline. Walaupun baru kenal tak begitu lama, tapi bukan berarti hanya cap cip cup jodoh. Ada diskusi antar kedua pihak, antar keluarga, dan yang pasti juga istikhoroh sebagai campur tangan Allah dalam prosesnya.

Never occured in their mind that they’ll end up with each other. Until a series of coincidences in the most fortunate time convince them that this is all divine intervention.

Dear Cimuth dan mas Ardan. Semoga semua persiapannya dilancarkan. Semoga rumah tangganya nanti selalu dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. See you in Malang, insya Allah! :)

I made this with love for my lovely friend :)

I made this with love, for my lovely friend :)

–00000–

Tiba-tiba Ghina mendatangi kami yang masih mendiskusikan tanggal pernikahan Cimuth.

“Eh Ghin, aku udah punya tanggal nikah looh!”, kata Cimuth dengan semangat.

“Oh, jangan lupa vaksin HPV ya. Vaksinnya efektif kalau dikasih 3 bulan sebelum nikah. Nanti disuntik 3 kali. Kalau vaksin sama gw lebih murah loh daripada ke rumah sakit lagi. Bla bla bla bla bla….”, jawab Ghina dengan polosnya……..

"If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime."

“If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime.”

6

Curhatan Koas Tingkat V

1413588024710

Tahun ini adalah tahun terakhir saya koas (insya Allah). Tahun terakhir merasakan bagaimana dididik di Fakultas Kedokteran tertua, tahun terakhir diajar oleh dosen dan dokter yang sungguh punya kompetensi luar biasa di bidangnya, tahun terakhir merasakan pahit-manis-susah-senang-pedih-bahagia menjadi mahasiswa. Insya Allah.

Berbeda dengan stase minor di tingkat 4 yang hanya 3 minggu, stase mayor tingkat 5 ini harus dijalani selama 9 minggu. Menurut saya pribadi, ini butuh penyesuaian, butuh endurance yang lebih baik, dan mempunyai kemungkinan stres yang lebih tinggi. Tingkat 5 ini terdiri dari stase Obstetri-Ginekologi (Obgyn atau kandungan), Ilmu Penyakit Dalam, Bedah, dan Anak. Kebetulan, saya memulai dari stase Obgyn dan berakhir di stase Anak.

So, selamat datang di stase tingkat 5!

Obstetri dan Ginekologi

“Wanita itu memang diciptakan untuk menjadi seorang manusia yang kuat. Betapa tidak? Coba bayangkan, rahim yang awalnya hanya berukuran sekitar 70gram, akan membesar menjadi 1kg selama 9 bulan kehamilan. Selain itu, wanita juga harus membawa 3kg bayi, 0.5kg air ketuban, dan 0.5 kg ari-ari setiap hari selama 9 bulan”

Di stase ini, akan dipelajari tentang 2 hal utama, yaitu obstetri (mulai dari awal pembuahan, kehamilan, melahirkan, sampai nifas) dan ginekologi (tentang kanker rahim, mioma, dan lainnya). Hampir sebagian besar waktu 9 minggu ini tak jauh dari VK (berasal dari bahasa Belanda verloskamer atau ruang bersalin) : menemani ibu-ibu yang sedang teriak kesakitan, melihat darah luber, membau air ketuban, dan mengikuti sebuah proses luar biasa kelahiran sebuah bayi.

Bagaimana rasanya pertama kali melihat seorang wanita melahirkan bayi? Hmm, speechless dan langsung kebayang Ummi. Seorang wanita memang sudah didesign sedemikian rupa untuk kuat menahan rasa sakit yang berlipat-lipat, mampu dan mau bergelut dengan maut demi melahirkan bayinya. Pantaslah, Surga berada dibawah kakinya. Pantaslah, “Ibu” dipanggil 3 kali sebelum “Ayah” oleh Rasulullah. Pantaslah, seorang anak yang durhaka kepada orang tua terutama ibunya, mendapatkan balasan Neraka. Dan, menjadi Ibu adalah kodrat dari setiap wanita.

Ada banyak kisah di dalam VK. Ada seorang wanita yang hamil 9 bulan, namun baru menikah 4 bulan lalu. Ada orang tua yang mengantar anaknya periksa ke RS karena sakit perut, padahal anaknya sedang dalam proses akan melahirkan dan orang tuanya tidak tahu bahwa selama 9 bulan ini anaknya hamil. Ada bayi yang terkena HIV karena ibunya HIV, sehingga bayi itu harus mendapat obat HIV selama sisa hidupnya. Ada calon ibu yang ternyata harus rela keguguran, padahal ini adalah kandungan pertamanya. Ada bayi yang baru lahir namun ibunya meninggal tak lama setelah proses melahirkan. Ada juga seorang suami yang ditinggal mati oleh istri dan bayinya yang tak bisa ditolong lagi. Ada banyak kisah, yang masing-masing punya hikmah.

Di stase Obgyn, para koas akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari sekitar 5 mahasiswa, dibimbing oleh 1 orang konsulen (dokter spesialis), dan juga 1 orang chief (residen tingkat akhir). Setiap minggunya punya materi sendiri, diantaranya APN (asuhan persalinan normal), APP (asuhan pasca persalinan), kesehatan reproduksi, dan lainnya. 3 minggu akhir, koas disebar di berbagai Puskesmas dan disertai beberapa tugas. Untuk ujian, setiap mahasiswa harus membuat 1 makalah LCBE (long case based-exam), dimana menceritakan pasien dari awal hingga akhir dan harus melakukan kunjungan rumah. I honestly enjoy Obgyn :)

Ilmu Penyakit Dalam

Untuk saya pribadi, IPD adalah stase yang paling capek menantang diantara semua stase selama 2 tahun ini. Tapi dari segi ilmu, saya memang banyak sekali mendapatkan pelajaran karena memang lingkup IPD yang sangat luas. Seperti stase mayor lain, IPD juga dijalani selama 9 minggu. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok, terdiri dari 7 orang. Setiap kelompok, terdapat 1 konsulen IPD yang akan membimbing kelompok. Selama minggu pertama, biasanya akan diberikan berbagai kuliah pengantar dan diskusi kasus. Kami dibagi-bagi ke beberapa rumah sakit, diantaranya RSCM, RS. Persahabatan, RSUD Kabupaten Tangerang, dan Puskesmas Koja (tapi sekarang dihapuskan). Biasanya, di setiap penempatan, akan ada chief IPD yang akan membimbing.

Selama IPD, harus punya ketahanan jasmani dan rohani yang kuat. Kalau sedang seminggu rotasi di Poli, setiap harinya harus mengumpulkan dan mendiskusikan 1 status pasien. Kalau sedang seminggu rotasi di Bangsal, setiap minggunya harus mengumpulkan dan mendiskusikan 3 status pasien, lengkap dengan pengkajian dan follow up-nya. Setiap jaga IGD RSCM juga harus mengumpulkan dan mendiskusikan 1 kasus dengan DPJP jaga. Setidaknya, selama 9 minggu IPD, harus mengumpulkan 30-an status lengkap. Belum lagi tugas untuk membuat makalah dan presentasi kasus. Belum lagi tugas membuat EBCR (evidence based case report) yang dibimbing oleh seorang konsulen. Sejujurnya, memang se-capek itu.

Ada beberapa ujian IPD. Yang paling berat adalah ujian pasien, dimana 1 koas diuji oleh 2 orang konsulen. Dulu, saya ujian di RSP dan diuji oleh konsulen dari divisi Hepatologi serta Metabolik-Endokrin. Ujian lainnya adalah ujian portofolio, dimana supervisor akan menguji mahasiswa tentang salah satu dari tumpukan status selama IPD. Pesan terakhir, ilmu IPD akan sangat bermanfaat sekali nantinya, jadi telan rasa capekmu dan teruslah berjuang!

Bedah

Setelah digenjot habis-habisan di IPD, beruntungnya saya mendapat jatah libur seminggu saat itu. Jadi setidaknya bisa bernafas lebih dulu sebelum masuk bedah. Bedah termasuk stase yang cukup gabut santai, tapi ternyata ilmunya luas sekali. Saat bedah, setiap kelompok juga dibimbing oleh seorang konsulen. Departemen Bedah itu punya banyak sekali divisi; bedah onkologi, bedah digestif, bedah vaskular, bedah ortopaedi, bedah plastik, bedah anak, bedah toraks kardiovaskular, dan bedah urologi. Setiap divisinya, punya banyak konsulen dan PPDS.

Sehari-harinya, akan diisi dengan diskusi, bedside teaching, ronde, dan lainnya. Kegiatannya mostly di RSCM, sebagian kecilnya di RSUD Tangerang. Sistemya, dalam seminggu mahasiswa akan ditugaskan ke 2 divisi; bisa di poli, bisa dibangsal, bisa di kamar operasi. Setiap divisi, biasanya punya karakteristiknya sendiri. Selama Bedah, ada banyak kompentensi yang harus dikuasai. Jadi, semangatlah untuk berburu tindakan!hehe.

Tebak, saat malam tahun baru, saya lagi ngapain? Saya sedang jahit luka pasien saat jaga malam di IGD RSCM.haha! Menyenangkan“, bukan?

Anak

Yak, tibalah di stase terakhir; Modul Kesehatan Anak dan Remaja (MKAR). stase ini termasuk berat, namun juga seringkali menjadi favorit koas. Jadwalnya rapih, dokter dan konsulennya sangat dedikatif mengajar koas, ilmunya menarik, sekretariat Modul sangat peduli dengan koas. Selain mempelajari penyakit Anak, ada 4 hal dasar yang harus didalami (dan pasti akan ditanyakan saat ujian) : imunisasi, tumbuh-kembang, kegawatdaruratan, dan nutrisi. Tapi, stase ini terkenal dengan ujian yang menyeramkan.

Di awal stase, ada 2 minggu yang dikhususkan untuk kuliah dan menurut saya sangat membantu serta berguna untuk selanjutnya. Ada juga 1 hari khusus non-stop membahas tentang nutrisi; dari yang otaknya kosong sama sekali menjadi penuh dengan nutrisi. Selama stase ini, RS wajib yang pasti akan dilalui adalah RSCM dan RSUD Tangerang. Sedangkan RS optionalnya adalah RSP, RSF, dan RSAB Harapan Kita. Tugas selama stase ini antara lain; presentasi kasus/EBCR, laporan jaga malam, status poli, dan status pasien pribadi. Saat ujian pasien, 1 mahasiswa akan diuji oleh 2 konsulen.

Selama stase ini, ada banyak pelajaran. Bahwa anak-anak yang sedang sakit (terutama sakit kronik) mempunyai ketabahan yang tinggi, seringkali saya terharu melihat betapa kuatnya mereka. Bahwa betapapun kita merasa kurang beruntung, ternyata masih banyak sekali hal yang butuh untuk kita syukuri. Bahwa anak-anak itu bukanlah “orang dewasa yang kecil”, karena mereka mempunyai karakteristik spesifik yang berbeda dengan orang dewasa. Bahwa rasa empati sangat dibutuhkan, bukan hanya saat berkomunikasi dengan anak-anak yang sakit, tapi juga dengan ayah, ibu, dan keluarganya. Setidaknya, stase ini mengajari koas untuk menjadi ayah/ibu yang baik :)

***

Ada seorang adik kelas yang bertanya, “Enaknya milih stase apa dulu, Kak?”

Setiap pilihan, ada enak dan gak enaknya; bergantung preferensi. Saya sendiri memilih Obgyn dulu dan tidak menyesal dengan pilihan saya. Kalau memulai dari Obgyn, saya tidak langsung dikagetkan dengan lingkungan IPD yang padat. Namun, konsekuensinya adalah Anak menjadi state terakhir padahal ujian akhir Anak terkenal susah. Yang memilih IPD dulu, biasanya karena bisa menjalani IPD dengan semangat kuat (karena stase awal.hehe) dan punya “banyak bekal ilmu” untuk menjalani setahun selanjutnya. Yang memilih Bedah dulu, bisa diakhiri dengan IPD sehingga tidak terlalu susah me-recall pelajaran untuk UKMPDD. Tapi konsekuensinya, IPD dijalani dengan sisa-sisa semangat menjadi koas.hehe. Yang memilih Anak dulu, biasanya karena diakhiri dengan Bedah yang cukup santai. Tapi konsekuensinya, stase Anak biasanya diisi oleh koas Internasional sehingga bahasa pengantarnya menggunakan Inggris. Karena tahun ini juga merupakan peralihan kurikulum, jadi harus juga dipikirkan jumlah koas yang overload sedikit-banyak akan mempengaruhi. Good luck, adik-adik! :)

tingkat 5

Terima kasih tak terhingga khususnya untuk para supervisor kelompok saya : dr. Arietta Pusponegoro SpOG, dr. Eka Ginanjar, SpPD, FINASIM, dr. M. Arza Putra, SpBTKV, dan Dr. dr.Murti Andriastuti, Sp.A(K)

Apakah ini artinya saya sudah selesai? Masih belum, masih banyak ujian-ujian yang harus dihadapi. Mohon doa selalu :)

Curhatan Koas Tingkat IV : disini

0

Standar Ganda

Mulut kita pandai sekali mengkritik, jeli mengomentari setiap inci kesalahan orang lain. Dengan mudah menjadi jaksa penuntut keburukan, suka rela ikut campur kehidupan pribadi orang. Tapi kenapa kita malah lebih cenderung menolak nasehat? Merasa bahwa nasehat orang hanya untuk menjatuhkan. Bersungut-sungut jika ada komentar yang disampaikan, bahkan jika untuk kebaikan.

Kita cenderung menutup-nutupi keburukan, lalu jumawa menonjolkan kebaikan. Kita dengan tegas melarang orang lain berbuat keburukan, juga dengan emosi memaksa orang melakukan kebaikan. Tapi, kenapa kita malah longgar terhadap diri sendiri? Membenarkan apapun yang ingin kita lakukan. Dengan kuat meyakini, bahwa kita pasti bisa menjaga diri. Jangan melarangku berbuat hal ini, kau tidak yakin aku bisa menjaga diri?

Kita juga seringkali memilih dan memilah dalam ibadah. Memilih mana kewajiban yang mampu laksana, serta memilah mana keharaman yang layak dilanggar. Seringkali mengkalkulasi berapa pahala yang telah kita lakukan, dan berapa dosa yang masih mungkin bisa dikerjakan. Selama gw masih sholat, berarti boleh pacaran dong?

Begitulah, semoga kita bisa lebih baik.

3

Untuk yang Diam-diam Memendam Perasaan

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak tulisan yang diam-diam kau tuliskan untuknya? Tulisan-tulisan yang bahkan dia tidak tahu bahwa dia adalah pelaku utama. Tulisan-tulisan yang tumbuh dari renungan panjang, tapi tak pernah ditunjukkan. Tulisan-tulisan yang hanya dipendam, seperti perasaanmu yang juga terpendam sejak lama. Tulisan-tulisan yang berisi harapan agar keberanian segera mengajakmu untuk menyatakan, tentu dalam ikatan yang direstui Negara dan Agama. Tulisan-tulisan yang berisi impian dimana ‘kamu dan dia’ bersatu menjadi ‘kita’.

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak kau sebut dia dalam doa-doamu? Doa-doa yang kau jadikan sebagai penggenggam rasa, juga sebagai pengantar rindu. Doa-doa yang tulus kau ucapkan, agar dia memperoleh hidup yang bahagia, juga berharap jika kamulah yang membahagiannya. Doa-doa yang entah kenapa terasa indah, bahkan sebelum kau mampu menenangkan hati yang gundah.

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak letupan-letupan rasa yang muncul setiap kali kau berpapasan tak sengaja dengan dia? Setiap letupan itu muncul, kau segera menghapusnya walau kadang kau sendiripun tak kuasa. Diam-diam memperhatikan dia dari jauh, tak kuasa membuka twitter, facebook, path, atau socmed lainnya, sambil menerka-nerka apakah dia juga sedang memendam perasaan yang sama. Kau pun berusaha terlihat semakin baik, sengaja me-retweet tulisan para dai kondang–apalagi jika berhubungan dengan pernikahan. Kau menjadi semakin rajin menulis di social media, sambil berharap-harap cemas komen, replylike, dari dia. Tapi sayangnya, harapan itu tak juga kunjung terjadi.

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Satu pertanyaanku, Tidakkah kau lelah?

3

Saya yang Dulu

Dulu, duluu sekali, saya sering ditodong (dan menodong) teman-teman SD untuk menulis biodata di selembar kertas binder warna-warni. Mulai dari nama lengkap, nama panggilan, tanggal lahir, mi-fa dan ma-fa (tau singkatannya kan?), idola (haha!), hobi, cita-cita. Di paragraf paling atas, ada tulisan “MY BIODATA“, huruf kapital, dengan tulisan paling bagus yang bisa saya tulis (oke, tulisan saya emang jelek dari dulu). Di kolom cita-cita, saya seringkali menulis “Kata Ummi, jadi orang yang bermanfaat aja. Kalau gak jadi guru, ya jadi dokter“.

Dulu, saya paling penakut! Saya lebih memilih menahan pipis, daripada ke kamar mandi jam 12 malam. Pas mati lampu, saya lebih akan refleks lari dan teriak manggil orang rumah, walaupun sering berakhir dengan kejedot pintu. Saya tidak bisa tidur jika hanya sendirian di kamar, pokoknya tidur harus ada orang lain. Satu-satunya film horor yang pernah saya tonton adalah Kuntilanak, itupun nonton dengan anak sekelas, pas siang hari, dan masih lebih sering tutup muka daripada nontonnya. Sekarang, saya ‘dipaksa’ untuk tidak jadi penakut. Jalan sendirian di lorong RSCM (yang katanya berhantu) jam 1 malam. Merawat pasien yang baru meninggal, sebelum diantar ke ruang jenazah. Autopsi mayat pas tengah malam di Forensik.

Dulu, saya jijik dengan darah. Sebenarnya bukan takut, tapi jijik ngeliatnya. Pernah dulu tidak sengaja melihat tabrakan di tengah jalan, saya jadi gak nafsu makan seminggu. Sekarang, saya terbiasa dengan darah. Mengambil sampel darah untuk pemeriksaan lab. Bantu ibu-ibu bersalin yang darahnya bisa satu ember. Menangani pasien IGD pasca kecelakaan yang berdarah-darah.

Dulu, saya tidak pernah tidak-tidur-semalaman. Anti begadang! Sekuat-kuatnya saya begadang, setidaknya dulu harus tidur minimal 4-5 jam. Sekarang, waktu tidur saya seringkali kacau. Kalau jaga lagi jaga malam IGD, seringnya tidak tidur sama sekali semalaman. Kalau lagi jadwal jaga IGD, berarti harus berangkat jam setengah 7 pagi, baru pulang jam 4-an sore keesokan harinya.

Dulu, saya benci rumah sakit. Benci sekali. Terlalu banya kenangan buruk di rumah sakit. Terlalu banyak air mata, penyesalan, kekecewaan, dan harapan yang putus bahkan sebelum sempat berharap. Sekarang, hidup saya tak jauh-jauh dari rumah sakit dan printilannya.

Dulu, saya benci, luar biasa benci kepada kematian; melebihi kebencian saya terhadap apapun. Sangat benci. Kematian adalah pemutus kehidupan, pemisah antara kakek dan cucunya, pemisah antara ayah dan anaknya, perenggut kebahagian, dan pintu gerbang kesedihan yang berkepanjangan. Benci sekali! Sekarang, saya belajar bahwa kematian tidak sesederhana yang saya pikirkan. Ia bukan pemutus kehidupan, karena kehidupan akhirat mulai akan terbuka setelahnya. Ia mungkin bukan perenggut kebahagiaan, tapi bisa jadi ia adalah pemutus kesengsaraan; sengsara karena menderita sakit, sengsara karena terlalu lama tidak berdaya di dunia. Ia mungkin bukan pintu gerbang kesedihan, tapi bisa jadi ia adalah pintu gerbang kebahagiaan abadi; sebagai imbalan amalan baik selama ini.

Hidup saya saat ini memang berat, hidup saya kedepannya juga mungkin tidak akan kalah berat. Yang saya bisa lakukan sekarang adalah berusaha sekuat tenaga, agar nantinya ilmu saya bisa menolong sesama. Bagaimanapun beratnya, saya meyakini bahwa salah satu keputusan terbaik saya, adalah tetap berjuang menggeluti profesi suci ini. 

IMG-20140927-WA0009

Kangen snorkeling! haha *gak nyambung sih*